MASJID MERAH PANJUNAN CIREBON

Tampak Depan

Dalam Masjid

Samping Mimbar

Mimbar

Masjid Bersejarah

Masjid Merah Panjunan didirikan oleh salah satu putra Sultan Bagdad, yaitu Syarif Abdurrahman. Masjid yang didirikan pada tahun 1480 M ini, pada awalnya bernama al-Athyah yang berarti yang dikasihi. Pendirian Masjid Merah Panjunan lebih disebabkan oleh karena belum adanya Masjid Agung di wilayah Caruban selain sebuah tajug sederhana, yaitu Masjid Pejlagrahan yang sampai saat ini juga masih ada.

Selain itu, dapat dilihat juga adanya beberapa alasan lain yang melatarbelakangi pendirian Masjid Merah Panjunan. Fungsi politis juga ikut mewarnai pembangunan Masjid Merah Panjunan selain fungsi praktis tersebut di atas. Fungsi ekonomis dari pembangunan Masjid Merah Panjunan dapat dilihat dari keberadaannya di wilayah yang merupakan sentra produksi dan pemasaran gerabah, karena pada saat itu masjid merupakan tempat khalayak ramai berkumpul. Bahkan fungsi ini kemudian juga mempengaruhi nama wilayah sekaligus nama masjid ini yaitu Panjunan.

Wilayah Panjunan dan sekitarnya menjadi sentra perdagangan dalam wilayah Cirebon, kota perdagangan pantai yang sangat ramai saat itu, sehingga penduduknya berasal dari berbagai macam suku bangsa. Berangkat dari asumsi bahwa masjid sebagai bangunan publik sehingga menjadi cerminan kebudayaan publik yang memilikinya dan realitas dari wujud fisik bangunan Masjid Merah Panjunan memperlihatkan adanya perpaduan budaya dan agama masyarakatnya dalam wujud akulturasi.

Proses akulturasi di Indonesia sudah terjadi semenjak masa pra-Islam, yaitu Budha dan Hindu. Agama Hindu datang ke Indonesia dibawa oleh bangsa India. Setelah kedatangan agama Hindu dan Budha ke Indonesia, datanglah agama Islam. Agama-agama tersebut kemudian bertemu dan mengadakan kontak secara terus-menerus. Akhirnya terjadilah akulturasi antara kedua agama tersebut.

Wujud akulturasi tersebut dapat dilihat dari adanya unsur-unsur budaya yang ada pada arsitektur Masjid Merah Panjunan. Jika menggunakan agama dan asal sebagai agen pengaruh budaya maka unsur-unsur akulturasi tersebut adalah sebagai berikut.

1. Unsur budaya Islam; Selain jelas dari wujud fisik dan fungsi praktis dari masjid ini yaitu sebagai bangunan peribadatan umat Islam, maka dapat dilihat lebih terperinci juga unsur-unsur khas yang berasal dari pengaruh Islam. Unsur budaya Islam dapat kita lihat pada mimbar, mihrab, tempat wudlu, dan beberapa ragam hias kaligrafi yang terlihat di tiang dan blandar. 2. Unsur budaya Jawa; Unsur budaya Jawa masih sangat terlihat dalam arsitektur Masjid Merah Panjunan ini yaitu dari jenis bangunannya yang jelas menggunakan arsitektur Jawa yaitu tajug dan limasan. Selain itu juga dapat dilihat dari pola konstruksi dan susunan arsitekturalnya. 3. Unsur budaya Cina; Pengaruh dari Cina juga ditemukan pada Masjid Merah Panjunan ini yang dapat dilihat dari penggunaan beberapa keramik produksi Cina untuk hiasan tempel, dan penggunaan bahan sirap seperti pada bangunan khas Cina. 4. Unsur budaya Hindu; Unsur budaya Hindu secara eksplisit tidak banyak dapat dilihat secara langsung pada wujud fisik bangunannya, tetapi jika dikaitkan dengan makna-makna filosofis dan simbol-simbol yang ada pada Masjid Merah Panjunan, masih dapat ditemukan adanya kelanjutan-kelanjutan pemakaian makna filosofis Hindu yang kemudian disesuaikan dengan ajaran Islam. 5. Unsur budaya Eropa; Unsur budaya Eropa dalam arsitektur Masjid Merah Panjunan dapat kita lihat dengan jelas pada keramik-keramik produksi Eropa, khususnya Belanda. Unsur-unsur tersebut diatas, semuanya disusun dan diterapkan sedemikian rupa sesuai dengan selera estetika pada jamannya. Selera jaman yang saat itu juga sudah dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan orang-orang Eropa kemudian juga mempengaruhi estetika akulturatif di atas.

Masjid Demak

Masjid Agung Demak adalah sebuah mesjid yang tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak.
Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor), sultan Demak ke-2 (1518-1521) pada tahun 1520.

A.  Selayang Pandang

Masjid  Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro. Banyak masyarakat memercayai masjid  ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal  dengan sebutan Walisongo (Wali Sembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia dan bukti kemegahan Kesultanan  Demak Bintoro.

Masjid Agung Demak didirikan dalam tiga tahap. Tahap pembangunan pertama adalah pada tahun 1466. Ketika itu masjid ini masih berupa bangunan Pondok Pesantren  Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel. Pada tahun 1477, masjid ini dibangun  kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Pada tahun 1478, ketika  Raden Fatah diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid ini direnovasi dengan penambahan  tiga trap. Raden Fatah bersama Walisongo memimpin proses pembangunan masjid ini  dengan dibantu masyarakat sekitar. Para wali saling membagi tugasnya masing-masing. Secara umum, para wali menggarap soko guru yang menjadi tiang  utama penyangga masjid. Namun, ada empat wali yang secara khusus memimpin pembuatan  soko guru lainnya, yaitu: Sunan Bonang memimpin membuat soko guru di bagian  barat laut; Sunan Kalijaga membuat soko guru di bagian timur laut; Sunan Ampel  membuat soko guru di bagian tenggara; dan Sunan Gunungjati membuat soko guru di  sebelah barat daya.

B.  Keistimewaan

Luas  keseluruhan bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 m2. Di  samping bangunan utama, juga terdapat serambi masjid yang berukuran 31 x 15 m  dengan panjang keliling 35 x 2,35 m;  bedug dengan ukuran 3,5 x 2,5 m; dan tatak rambat dengan ukuran 25 x 3  m. Serambi masjid berbentuk bangunan yang terbuka. Bangunan masjid ditopang  dengan 128 soko, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga  utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.

Masjid ini  memiliki keistimewaan berupa arsitektur khas ala Nusantara. Masjid ini  menggunakan atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki. Atap limas  ini berbeda dengan umumnya atap masjid di Timur Tengah yang lebih terbiasa dengan  bentuk kubah. Ternyata model atap limas bersusun tiga ini mempunyai makna,  yaitu bahwa seorang beriman perlu menapaki tiga tingkatan penting dalam keberagamaannya: iman, Islam, dan ihsan. Di samping itu, masjid ini memiliki lima  buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, yang memiliki  makna rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Masjid ini  memiliki enam buah jendela, yang juga memiliki makna rukun iman, yaitu percaya  kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari  kiamat, dan qadha-qadar-Nya.

Bentuk bangunan  masjid banyak menggunakan bahan dari kayu. Dengan bahan ini, pembuatan bentuk  bulat dengan lengkung-lengkungan akan lebih mudah. Interior bagian dalam masjid  juga menggunakan bahan dari kayu dengan ukir-ukiran yang begitu indah.

Bentuk bangunan masjid yang unik tersebut ternyata hasil kreativitas masyarakat pada saat itu. Di samping banyak mengadopsi perkembangan arsitektur lokal ketika itu, kondisi iklim tropis (di antaranya berupa ketersediaan kayu) juga mempengaruhi proses pembangunan masjid. Arsitektur bangunan lokal yang berkembang pada saat itu,  seperti joglo, memaksimalkan bentuk limas dengan ragam variasinya.

Masjid  Agung Demak berada di tengah kota dan menghadap ke alun-alun yang luas. Secara  umum, pembangunan kota-kota di Pulau Jawa banyak kemiripannya, yaitu suatu  bentuk satu-kesatuan antara bangunan masjid, keraton, dan alun-alun yang berada  di tengahnya. Pembangunan model ini diawali oleh Dinasti Demak Bintoro. Diperkirakan, bekas Keraton Demak ini berada di sebelah selatan Masjid Agung  dan alun-alun.

Di lingkungan Masjid Agung Demak ini terdapat sejumlah benda-benda peninggalan bersejarah, seperti Saka Tatal, Dhampar Kencana, Saka Majapahit, dan Maksurah. Di samping  itu, di lingkungan masjid juga terdapat komplek makam sultan-sultan Demak dan  para abdinya, yang terbagi atas empat bagian:

  • Makam Kasepuhan, yang terdiri atas 18 makam, antara  lain makam Sultan Demak I (Raden Fatah) beserta istri-istri dan putra-putranya,  yaitu Sultan Demak II (Raden Pati Unus) dan Pangeran Sedo Lepen (Raden  Surowiyoto), serta makam putra Raden Fatah, Adipati Terung (Raden Husain).
  • Makam Kaneman, yang terdiri atas 24 makam, antara lain makam Sultan Demak III (Raden Trenggono), makam istrinya, dan makam  putranya, Sunan Prawoto (Raden Hariyo Bagus Mukmin).
  • Makam di sebelah barat Lasepuhan dan Kaneman, yang terdiri atas makam Pangeran Arya Penangsang, Pangeran Jipang, Pangeran Arya  Jenar, Pangeran Jaran Panoleh.
  • Makam lainnya, seperti makam Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Benowo, dan Singo Yudo.

C. Arsitektur

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit.

Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

D. Lokasi

Masjid  Agung Demak terletak di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah,  Indonesia.

E. Akses

Letak masjid yang berada di tengah kota memudahkan bagi pengunjung untuk menuju  lokasi, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Prasasti Batu Tulis

Entah sudah berapa puluh kali saya melewati jalan batutulis, tapi masih saja nggak “ngeh” (sadar) bahwa didaerah situ terdapat prasasti yang sudah berumur ribuan tahun peninggalan kerajaan Tarumanegara. Tentu bukan salah saya 100% karena meskipun lokasinya tepat ditepi jalan batutulis, susah dikenali atau dibedakan dengan bangunan pertokoan atau rumah penduduk. Malah sepintas mirip dengan kantor kelurahan atau kantor pemerintahan sejenis lainnya. Terlebih lagi daerah tersebut boleh dibilang padat arus lalu-lintasnya sehingga mata pengemudi akan cenderung mengamati jalan raya, waspada bila tiba-tiba saja ada angkutan umum yang dengan santai memotong jalan atau berhenti mendadak.


[navigasi.net] Budaya – Prasasti Batutulis
Sebuah batu lain yang terletak di depan batu lingga, diperkirakan sebagai tempat duduk

Berada dalam sebuah bangunan ukuran +/- 5×5 meter, yang dipagari besi dan tanaman pada sisi dalamnya, praktis lokasi ini sama sekali tidak menarik perhatian atau mengisyaratkan ada benda istimewa didalamnya. Papan wisata yang adapun dipasang sejajar dengan badan jalan sehingga agak susah dibaca kecuali benar-benar tepat berada didepan/diseberang jalan.

Prasasti batutulis memang merupakan bagian sejarah dari kota bogor. Terletak di kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kotamadya Bogor, dulunya lokasi ini ribuan tahun yang lalu berada ditempat yang hening, sepi dan berkabut. Bahkan bagi penduduk setempat dipercaya sebagai tempat sarang harimau yang kemudian menumbuhkan khayalan adanya hubungan antara kerajaan Pajajaran yang sirna dengan harimau. Scipio, seorang ekspedisi Belanda yang ditugaskan untuk membuka daerah pedalaman jakarta, melukiskan betapa hormat dan khidmatnya mereka (orang pribumi dalam rombongan ekspedisi), menghadapi situs Batutulis sampai mereka berani melarang Scipio yang merupakan pimpinannya menginjakkan kaki kedalamnya karena ia bukan orang Islam, jelas sekali mereka menganggap tempat itu “keramat”, karena disitu, menurut mereka, terletak tahta atau singgasana raja Pajajaran. Dengan keyakinan seperti itu, bila pada saat mereka pertama kali menemukan tempat tersebut lalu melihat seekor atau beberapa ekor harimau keluar dari dalamnya, mereka tidak akan menganggapnya sebagai hewan biasa.


[navigasi.net] Budaya – Prasasti Batutulis
Sepasang tapak kaki dan tangan dari Prabu Surawisesa

Menurut catatan sejarah, prasasti itu dibangun tahun 1533 oleh Prabu Surawisesa, sebagai peringatan terhadap ayahandanya, Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Prabu Siliwangi memerintah pada 1482 – 1521. Raja sakti mandraguna itu dinobatkan dengan gelar Prabu Guru Dewata Prana, lalu bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Di kompleks itu terdapat 15 peninggalan berbentuk terasit, batu yang terdapat di sepanjang Sungai Cisadane. Ada enam batu di dalam cungkup, satu di luar teras cungkup, dua di serambi dan enam di halaman. Satu batu bercap alas kaki, satu batu bercap lutut, dan satu batu besar lebar yang berisi tulisan Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Konon prasasti batutulis itu dibuat oleh Prabu Surawisesa sebagai bentuk penyelasannya karena ia tidak mampu memepertahankan keutuhan wilayah  Pakuan Pajajaran yang dimanatkan padanya, akibat kalah perang dengan kerajaan Cirebon.

Perang Pakuan-Pajajaran berlangsung selama 5 tahun. Cirebon yang didukung kerajaan Demak berhasil mengalahkan kerajaan Pakuan setelah pasukan meriam Demak datang membantu tepat pada saat pasukan Cirebon mulai terdesak mundur. Laskar Galuh (Pakuan) tidak berdaya menghadapi “panah besi yang besar, menyemburkan kukus ireng, bersuara seperti guntur dan memuntahkan logam panas”. Tombak dan anak panah mereka lumpuh karena meriam sehingga jatuhlah Galuh diikuti dua tahun kemudian dengan jatuhnya pula kerajaan Talaga, benteng terakhir kerajaan Galuh.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Prasasti yang terpahat dibatu tersebut tersusun dalam 9 baris tulisan. Adapun bunyi dan arti dari prasasti tersebut tiap baris adalah:
1. wangna pun ini sasakla prabu ratu purane pun diwastu : Wangna ini tanda peringatan bagi Prabu almarhum dinobatkan.


[navigasi.net] Budaya – Prasasti Batutulis
Prasasti yang ditulis dengan huruf palawa

2. diya wingaran prebu guru dewata prana diwastu diya dingaran sri : Dia bernama prabu guru dewata parana dinobatkan lagi dengan nama Sri
3. baduga maharaja ratu haji di pakuan pajajaran sri baduga ratu de : Baduga maharaja ratu haji dipakwan Pajajaran sang ratu de-
4. wata pun ya nu nyusuk na pakuan diya anaka rahyang dewa nis : wata dialah yang membuat parit pakwan dia anak sangyang dewa nis-
5. kala sang sida mokta di guna tiga incu rahyang nisakala wastu : kala yang mendiang di guna tida cucu rahyang niskala wastu
6. kancana sang sida mokta ka nusa larang ya siya nu nyian sakaka : kencana yang mendiang ke nu salarang dialah yang membuat tanda pe-
7. la gugunungan ngabalay nyian sanghyang talaga : ringatan gugunungan, membuat teras di lereng bukit membuat hutan samida, telaga
8. rena maha wijaya ya siya pun i saka panca panda : rena maha wijaya ya dialah itu dalam tahun saka lima li-
9. wa emaban bumi .. : ma empat satu (1455) => dalam tahum masehi 1533.

Disebelah prasasti itu terdapat sebuah batu panjang dan bulat sama tingginya dengan batu prasasti. Batu panjang dan bulat (lingga batu) ini mewakili sosok Sri Baduga Maharaja sedangkan prasasti itu sendiri mewakili sosok Surawisesa. Penempatan kedua batu itu diatur sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang; akan tetapi ia tidak berani berdiri sejajar dengan si bapak. Demikianlah batutulis itu diletakkan agak kebelakang disamping kiri lingga batu.


[navigasi.net] Budaya – Prasasti Batutulis
Lokasi batutulis dilihat dari jalanraya yang sepintas tidak ada bedanya dengan bangunan umum lainnya terkecuali adanya papan petunjuk wisata

Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu didepan prasasti itu. Satu berisi astatala ukiran jejak tangan dan satunya berisi padatala, ukiran jejak kaki. Mungkin pemasangan batu tulis itu  bertepatan dengan dengan upacara srada yakni “penyempurnaan sukma” yang dilakukan  setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi.

Dengan kata lain, prasasti batutulis merupakan bukti rasa hormat seorang anak terhadap ayahnya, dan merupakan suatu hal yang perlu diteladani oleh generasi sekarang maupun yang akan datang.

MASJID AGUNG SUNDA KELAPA

Bagi Anda yang tinggal atau bekerja di seputaran Menteng, tentu tak asing lagi dengan nama Masjid Agung Sunda Kelapa. Masjid yang terletak di jalan bernama sama di Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat ini sudah berdiri kokoh selama 38 tahun. Sebagian besar warga ibukota kerap berkunjung ke sana karena masjid itu terbilang unik sekaligus mengesankan.

Dibangun atas prakarsa Ir Gustaf Abbas pada tahun 1960-an, desain interior dan eksterior masjid ini dipenuhi simbol-simbol fleksibel. Tidak kaku dengan simbol Timur Tengah yang kerap menjadi harga mati untuk arsitektur masjid. Abbas adalah arsitek lulusan Insitut Teknologi Bandung (ITB), yang mematahkan arsitektur masjid di tanah air pada umumnya. Karyanya juga dapat Anda rasakan pada Masjid Salman di Jalan Ganesha, Bandung.

Tak seperti masjid kebanyakan, Masjid Agung Sunda Kelapa tak memiliki kubah, bedug, bintang-bulan, dan sederet simbol yang biasa terdapat dalam sebuah masjid. Menara yang ada pun sangat unik. Bentuk bangunannya mirip perahu, sebagai simbol pelabuhan Sunda Kelapa tempat saudagar muslim berdagang dan menyebarkan syariat Islam di masa lalu.
Selain itu, bentuk perahu adalah makna simbolik kepasrahan seorang muslim. Bagaikan orang duduk bersila dengan tangan menengadah, berdoa mengharap rahmat dan kasih sayang-Nya.

Abbas, tak sendirian. Ia didukung para jenderal di Menteng yang menyumbangkan dana awal pembangunannya. Para jenderal merasa harus meluruskan kekeliruan sejarah atas G30S/PKI, dengan membangun sebuah masjid yang nyaman untuk pelaksanaan ibadah. Karena pembangunan tak kunjung selesai, Pemda DKI Jakarta semasa Ali Sadikin (alm), merasa harus turun tangan Pemda merampungkan pembangunannya sampai berdiri kokoh pada tahun 1970.

Menempati area 9.920 m², Masjid Agung Sunda Kelapa mampu menampung 4.424 jamaah. Ini ditunjang dengan Ruang Ibadah Utama Masjid Sunda Kelapa, Aula Sakinah, dan Serambi Jayakarta.

Staf operasional Masjid Agung Sunda Kelapa, Rudi, bertutur, “Dengan ruangan kantor lima lantai, Masjid Agung Sunda Kelapa siap melayani umat seminggu penuh pukul 08.00-20.00 WIB. Terdapat Baitul Maal yang mengadakan penggalangan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) untuk mendukung layanan kesehatan cuma-cuma bagi fakir-miskin di wilayah Jabodetabek.”

Untuk keyamanan ibadah, lanjutnya, dilengkapi dengan penitipan sepatu yang siap digukanakan untuk 300 pasang, keran wudhu berjumlah 72, kakus duduk sebanyak 30, AC, dan kipas angin. Selain itu disediakan pula layar lebar CCTV bagi yang tidak bisa melihat khatib Jum’at secara langsung, dengan sound system yang terbilang modern. Tempat parkirnya mampu menampung 500 mobil dan atau 600 motor.

Bagian lain Masjid Sunda Kelapa disediakan untuk resepsi pernikahan. Acara akad nikah biasanya di Ruang Ibadah Utama dan jamuan makan di Aula Sakinah dengan pasilitas lengkap untuk 700 orang. Sementara untuk acara rapat, tersedia ruangan yang bisa menampung 60 orang. Dan untuk acara seminar, tersedia ruangan yang bisa menampung 150 orang.

Tampaknya, pengelola Masjid Sunda Kelapa harus menunjang pelayanan umat dengan pengembangan spiritual. DR. Suwendi, bagian Keagamaan Masjid Agung Sunda Kelapa menegaskan, “Khatib Jum’at di Masjid Agung Sunda Kelapa minimal setingkat magister. Dan materi yang disampaikannya dibagikan secara cuma-cuma sebanyak 1.500 eksemplar pada minggu depannya dalam bentuk Bulletin Masjid Agung Sunda Kelapa.”

“Masjid Agung Sunda Kelapa berusaha mengambil potret pengelolaan masjid semasa rasul. Berfungsi secara sosial dan spiritual bagi umat di sekitarnya,” akunya lagi.

Untuk mematangkan dimensi spiritual, pengelola Masjid Agung Sunda Kelapa menawarkan aneka program. Anda dapat memilih mana yang paling memung-kinkan untuk diikuti. Setiap hari terdapat pengajian dengan materi-materi pokok ke-Islam-an.

Bagi yang biasa melaksanakan puasa Senin-Kamis, Masjid Agung Sunda Kelapa menyediakan buka puasa cuma-cuma yang disusul dengan pelaksanaan penga-jian. Yang paling spektakuler adalah program ‘Itikaf. Program ini, berbentuk aktivitas berdiam diri di masjid dalam waktu yang telah ditentukan. Pada 27 Ramadhan lalu, pesertanya mencapai 4.000 orang. Semua ruangan dijejali ja-maah yang duduk khusus melantunkan dzikir dan do’a.

Selepas shalat Jum’at, rasa lapar-dahaga Anda dapat dipuaskan dengan ragam jajanan yang ada di sekeliling masjid. Menu yang ditawarkan adalah makanan khas tanah air. Jangan berharap menemukan makanan siap saji layaknya di mal.

Makanan yang paling sering dipesan adalah tongseng. Daging kambing dimasak dengan tambahan kol, bawang putih, cabe, merica, dan tomat. Cara masaknya sangat menggoda lidah. Baunya terhirup sedap karena direbus dengan ketel di atas perapian arang batok kelapa, yang dikipas anyaman bambu.

Anda akan cukup puas dengan merogoh kocek Rp. 11.000 untuk semangkok tongseng dan sepiring nasi. Untuk mengusir rasa dahaga sehabis makan tongseng, pilihan pertama adalah minuman es kelapa seharga Rp. 5.000,- atau teh botol seharga Rp. 2.500,-.
Biasanya, orang berkerumun memesan tongseng ditemani asap dari perapian. Sementara yang lainnya berjejer memenuhi deret kursi sambil menyantap tongseng ditemani es kelapa atau teh botol. Tongseng ternyata tak hanya ramai dikunjungi pembeli pada hariJum’at. Penjual tongseng biasanya pulang lebih awal di antara penjual makanan lainnya.

Bagi jamaah yang ingin cepat pulang, tapi perut harus tetap terisi, bisa memesan Selendang Mayang dengan harga Rp. 2.000,-. Makanan khas Betawi ini, terbuat dari tepung beras. Baunya harum dan berwarna hijau muda, karena racikannya bercampur daun suji. Dihidangkan dengan santan kelapa, gula, dan sedikit es batu.

Bagi yang merasa dahaga tapi dompetnya sedang tipis, tak perlu berkecil hati. Sambil tersenyum ramah, Sales Promotion Girl produsen minuman akan menawarkan minuman dingin secara cuma-cuma. Mereka kerap berjejer di bibir pintu gerbang, selepas shalat Jum’at.

Jika Anda tengah berada di bilangan Menteng, jangan ragu untuk shalat Jum’at di Masjid Agung Sunda Kelapa. Di sana, Anda akan shalat Jum’at dengan nyaman sekaligus dimanjakan beragam jajanan yang murah dan memuaskan.

Masjid jami’ Luar Batang

Sekilas sejarah Masjid Luar Batang

Masjid Luar Batang termasuk masjid terkenal di Batavia karena keramat Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus (w. 1756). Keramat ini banyak peziarah. Pada peta-peta abad ke-19 terkadang tertulis Heilig graf, artinya “makam keramat”di tempat Masjid Luar Batang sekarang. Masjid ini terletak disebelah utara tembok kota lama, di daerah yang sesudah pertengahan abad ke-17 diuruk dan baru boleh dihuni oleh orang Jawa dari Cirebon sejak 1730. Mereka bertugas membersihkan mulut kali Ciliwung dari lumpur, Supaya kapal bisa sampai ke Pasar Ikan yang letaknya tidak jauh dari masjid ini.

Daerah Luar Batang artinya daerah di luar batang besar (groote boom) yang menutup pelabuhan pada malam hari, merupakan tanah endapan dan ukuran yang semakin menjorok keutara. Pada peta-peta Batavia lama. daerah disebelah utara tembok kota dan kali yang menghubungkan kali besar dan Muara Baru, terbentuk perlahan-lahan antara taun 1650 dan 1700. Sejak awal tahun 1730-an daerah ini sangat tidak sehat, karena nyamuk yang berkembang biak dalam tambak ikan di pantai utara, menyebarkan malaria.*

Sejarah Masjid Luar Batang belum dapat disusun dengan jelas karena sumber-sumber historis yang tersedia bertentangan dengan pandangan umum sekarang ini, dan kurang lengkap. Berita tertua berasal dari seorang turis Tionghoa, yang menulis bahwa pada tahun 1736 ia meninggalkan Batavia dari sheng mu gang, artinya ‘pelabuhan makam keramat’, yaitu dari pelabuhan Sunda Kelapa sekarang, makapada tahun 1736 sudah terdapat suatu makam yang dianggap keramat di daerah pelabuhan Batavia, walupun Habib Hussein belum meninggal dunia. Itu keramat siapa ?**
Pada tahun 1916 telah dicatat diatas pintu masjid, bahwa gedung ini selesai dibangun pada 20Muharam 1152 H yang sama dengan 29 April 1739*** Qiblat masjid ini kurang tepat dan ditentukan lebih persis oleh Muh. Arshad al-Banjari (w. 1812) waktu singgah perjalanan pulang dari Hejaz ke Banjar pada tahun 1827. Masjid ini kurang berkiblat, sama seperti Masjid Kebon Sirih dan Cikini. Oleh karena itu, ada penulis (mis. Abubakar Atjeh) yang beanggapan, bahwa semula ruang masjid ini adalah bekas rumah kediaman orang, yang kemudian digunakan sebagai mushola atau masjid.
Pada sebuah batu dalam Masjid Luar Batang ditulis, bahwa ‘al Habib Husein bin Abubakar Bin Abdillah al-Alaydrus yang telah wafat pada hari kamis 27 Puasa 1169 berkebetulan 24 Juni 1756. Batu ini dibuat antara tahun 1886 dan 1916. sebab, L.W.C, Van Berg dalam buku yang termasyur tentang orang Hadhramaut, menyebut, bahwa Habib Husein baru wafat 1798 (!). sedangkan Ronkel sudah menyebut batu peringatan tersebut dalam karangannya yang diterbitkan pada tahun 1916.*

Koran Bataviaasche Caurant, tanggal 12 Mei 1827, memuat suatu karangan tentang Masjid Luar Batang. Dicatat dalam tulisan ini, bahwa Habib Husein meninggal pada tahun 1796, setelah lama berkhotbah diantara surabaya dan Batavia. Pada tahun 1812 makamnya dikijing dengan batu dan masih terletak di luar gedung masjid sampai tahun 1827. Pada waktu ini rupanya derma tidak lagi diterima oleh komandan(semacam lurah) daerah Luar Batang, tetapi dinikmati oleh(pengurus) masjid** sehingga gedung bisa diperluas.
Di lain pihak suatu masjid (!) bukan surau telah dicatat pada peta yang dibuat C.F.Reimer pada tahun 1788.
Dengan merangkumkan segala data yang tersedia, dapat dikatan bahwa suatu makam yang dianggap keramat sudah terdapat di Luar Batang pada tahun 1736 Mushola atau masjid didirikan 1739, Habib Husein tinggal diadaerah itu dan meninggal tidak sebelum 1756 (mungkin baru pada tahun 1796 atau 1798), makam keramat Habib Huseinlah yang menarik banyak peziarah, sehingga Masjid Luar Batang menjadi Masjid terkenal di Batavia lama. Walaupun data-data ini (agak) pasti, masih timbul beberapa pertanyyan yang mengyangkut sejarah masjid ini. Sebelum diusahakan suatu jawaban, maka disajikan beberapa kutipan dari pengarang lain.
Dan Masjid ini banyak dikunjungi oleh para pejabat-pejabat Negara baik kalangan dalam negeri mapun Luar negeri, Masjid ini sekarang in sudah banyak direnovasi dan penanggung jawab langsung adalah Bapak Gubenur DKI Jakarta ( Bpk. Fauzi Bowo).

Ziarah Masjid Pintu Seribu

Masjid Nurul Yakin atau lebih dikenal dengan sebutan masjid Sewu (seribu) memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan masjid lain di Banten. Selain memiliki seribu pintu, tasbih berukuran raksasa terpajang di salah satu sudut ruangan. Tak ada keterangan tertulis, apa makna dibalik aristektur bangunan itu.

Terletak di RT 01/03, Kampung Bayur, Priuk, Kota Tangerang. Pendiri masjid adalah seorang penyebar Islam kelahiran Arab bernama Alfakir Syekh Mahdi Hasan Alqudrotillah Almuqoddam. Salah satu keunikan masjid ini adalah ruangannya yang disekat-sekat hingga membentuk ruangan seperti mushola. Setiap ruangan (mushola) diberi nama. Ada mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu. Masing-masing luas area mushola sekitar 4 meter.
Selain mushola, keunikan lain adalah tasbih berukuran raksasa terpajang di dalam ruangan. Memiliki 99 butir berdiameter 10 centimeter. Setiap butir bertuliskan nama Asma’ul-Husna. Konon, tasbih itu merupakan terbesar di Indonesia. Awalnya, masjid ini kurang begitu populer karena digerus zaman. Akan tetapi, setelah mulai dipublikasikan media, masjid itu kemudian banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai penjuru, bukan saja nasional tapi masyarakat internasional.
Supandi S, seorang pengurus masjid bagian publikasi menuturkan, hingga sekarang belum diketahui makna yang terkandung di balik arsitektur masjid yang memiliki seribu pintu itu. Tak ada keterangan tertulis dari pendiri masjid.
Kini, mushola di dalam masjid digunakan untuk aktifitas pesantren, seperti Tawasul, Dzikir hingga pengajian rutin.
Masjid seribu pintu diyakini sebagai salah satu tempat penyebaran Islam oleh pendirinya. Konon, penyebaran dilakukan dengan cara pembagian sembako untuk fakir miskin dan anak yatim piatu, “Sejarah di dalam masjid ini karena mempunyai pintu sebanyak seribu, selain itu cara penyebaran Islamnya dari beberapa generasi dengan cara pembagian sembako rutin setiap Jum’at,” ujar Supandi.
Menurutnya, masjid seribu ini menjadi salah satu tempat paling menarik bagi wisatawan. Tak hanya local tapi wisatawan asing. Seperti wisatawan dari negeri jiran (Malaysia), Brunai Darusalam, Tokyo hingga Singapura. Umumnya, mereka ingin mengetahui tasbih yang berukuran besar yang tertulis ayat-ayat Al Qur’an. “Mereka sangat kagum dengan tasbih itu,” katanya. Hanya saja, belum diketahui siapa pembuat dan sejak kapan tasbih itu dibuat. “Semuanya masih misteri,” pungkasnya.

Pesona Masjid 500 Tahun Lebih

Dilihat dari luar, Masjid Merah Panjunan sangat menarik perhatian, terutama bagi orang yang baru pertama kali datang ke Cirebon, Jawa Barat. Warna merah bata mendominasi keseluruhan bangunan yang didirikan pada tahun 1480 ini.

Masjid Merah Panjunan terletak di Kampung Panjunan, kampung pembuat jun atau keramik porselen. Bangunan ini didirikan oleh Pangeran Panjunan yang merupakan murid Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo (Sembilan Wali) penyebar Islam di Jawa.

Menurut risalah kuno Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman. Dia memimpin sekelompok imigran Arab dari Baghdad. Sang pangeran dan keluarganya mencari nafkah dari membuat keramik. Sampai sekarang anak keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, meski kini lebih untuk tujuan spiritual ketimbang komersial.

Pangeran Panjunan dimakamkan di Plangon (12 km barat-daya Cirebon). Makamnya merupakan salah satu tujuan ziarah penting di Cirebon, terutama pada 27 Rajab, ketika sebuah upacara tahunan digelar untuk memperingatinya.

Dahulu Masjid Merah Panjunan selain untuk tempat ibadah juga dipakai Wali Songo untuk saling berkoordinasi dalam menyiarkan agama Islam di daerah CIrebon dan sekitarnya. Tempat ini dimanfaatkan pula oleh para murid untuk menimba ilmu.

Sekilas, masjid yang berusia 530 tahun ini lebih mirip surau karena ukurannya yang lebih kecil ketimbang masjid pada umumnya. Hanya mampu menampung sekitar 100 jemaah salat. Pada saat salat dhuhur sehari-hari, hanya sekitar 20 orang bergabung dalam deretan jemaah. Tapi, ini masjid yang hidup. Selain menjadi tempat salat, pada sore hari juga bisa disaksikan seorang guru mengajari anak-anak mengaji. Kemeriahan memuncak pada bulan Ramadan, ketika banyak orang—baik dari dalam maupun luar kota—menikmati takjil, hidangan buka puasa berupa gahwa alias kopi jahe khas Arab.

Meski nuansa Arab tak terelakkan namun ornamen yang ada pada masjid ini sangat kental dipengaruhi oleh seni tradisional Tionghoa. Piring-piring porselen asli Tiongkok menjadi penghias dinding. Semua peninggalan itu bisa ditemui juga di hampir semua keraton di Cirebon dan bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di kota tersebut.

Sebuah legenda menyebutkan, keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China. Tak jauh dari masjid itu terdapat kuil Buddha kuno–Vihara Dewi Welas Asih, yang didominasi warna merah juga. Konon, menurut cerita, masjid ini dibangun hanya dalam waktu semalam saja.

Misteri makam
Semula, Masjid Merah Panjunan merupakan musala sederhana yang dinamakan Al-Athyah, artinya ‘yang dikasihi’. Pendirian masjid lebih disebabkan oleh karena belum adanya masjid agung di wilayah Caruban selain sebuah tajug sederhana, yaitu Masjid Pejlagrahan yang sampai saat ini juga masih ada.

Oleh karena posisi masjid berada di kawasan perdagangan tempat bertemunya pedagang dari berbagai suku bangsa, bangunan Masjid Merah merupakan hasil perpaduan antara budaya dan agama semenjak masa pra-Islam, yaitu Buddha dan Hindu. Setelah kedatangan agama Hindu dan Buddha ke Indonesia, datanglah agama Islam.

Bangunan lama masjid yang sebenarnya berukuran 20 m x 20 m dan kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi. Pada tahun 1949, di kawasan masjid dibangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 sentimeter dan setinggi 1,5 meter oleh Panembahan Ratu (Cicit Sunan Gunung Jati).

Keunikan lainnya dari struktur bangunan adalah bagian atapnya menggunakan genteng warna hitam tanah yang hingga kini masih dijaga keasliannya. Namun sayangnya beberapa keramik yang ada di tembok pagar ada yang sudah dicungkil oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Terutama yang ada pada bagian pagar temboknya.

Di salah satu sisi masjid terdapat sebuah makam yang diberi pagar, namun tidak terlalu jelas siapa yang dimakamkan di situ. Menurut pengurus masjid, Nasruddin (35), ada dua versi cerita tentang apa yang dimakamkan di tempat itu.

Versi pertama mengatakan bahwa itu adalah makam seorang yang cukup disegani di daerah Panjunan. Sedangkan versi kedua menyatakan, yang dikuburkan di tempat itu adalah benda-benda yang pernah dipakai untuk membangun masjid. “Kami sendiri tidak pernah membongkar makam tersebut. Pendiri mesjid ini tidak dimakamkan di sini,” jelasnya.

Mesjid Merah dibangun separuh terbuka. Ada dua ruangan yang dipisahkan oleh tembok dan pintu kecil. Salah satu ruangannya dibuka hanya dua kali dalam setahun, yakni saat salat Idul Fitri dan Idul Adha. Ruangan itu ditutup karena di dalamnya masih terdapat mimbar kuno. Alasan tidak dibuka pada hari biasa adalah untuk menghindari tangan-tangan jahil yang akan merusak dinding.